
[1]
sudah sejak bulan Juli lalu aku mulai mengajar di Departemen Arsitektur, Scool of Architecture and Planning SAP, Anna University Chennai, tempat aku melakukan studi doktoralku. Topik yang kuajarkan, Anthropology and Architecture, AD 065, kuliah pilihan. Sebetulnya ini adalah pengalaman kedua mengajar topik yang sama. Tahun 2008 aku juga sempat mengajar kuliah yang sama di tempat yang sama. Pada tahun 2008 profesorku meminta tolong aku untuk membantu dia mengelola satu mata kuliah. Silabus sudah ada, dan aku hanya mengembangkan dari situ.
Tidak terlalu sulit mengelola mata kuliah kuliah ini karena semua bahan sudah cukup terkuasai, dan referensi referensi yang digunakan juga cukup familiar. Roxana Waterson, Paul Oliver, dan beberapa referensi lokal India yang memang cukup baru, seperti VS Parmar dan tesis profesor saya sendiri. Silabus ini juga melibatkan Fenomenologi yang tentunya mengambil referensi utama Martin Heidegger, dan penulis lain seperti Ryykwerth, Bolnow, Norberg-Schulze. Dan di sesi terakhir aku adalah diskursus yang berkenaan dengan kota. Sisipan-sisipan lain juga aku masukan, seperti Nold EGenter, Yi Fu Tuan, Seamon.
Untuk memudahkan mahasiswa, dan TENTUNYA memudahkan aku juga untuk mengelola kegiatan mengajar dan mengkoordinasikannya dengan kesibukan PhD ku, maka aku merancang blog darurat di "indahwidiastuti.wordpress.com" . Niatku sederhana, mempersiapkan semua materi berikut referensi, dan menjalankan perkuliahan minggu demi minggu tanpa harus dipusingkan dengan persiapan. Mahasiswa juga tidak lagi punya alasan tidak memiliki catatan. Kekurangan sistem ini adalah bahwa sebetulnya dia kurang mendidik, karena mahasiswa jadi "keenakan". Tapi apalah peduliku, aku juga sibuk. Dan dalam banyak hal mahasiswa di sini lebih menyebalkan dan tak perlu dikasihani. Jadi biarlah mereka urus diri mereka sendiri.
[2]
Pengalaman mengajar mahasiswa di India cukup intriguing, dan menantang. Terus terang tidak sebagus yang aku alami di ITB. Pikiran mereka terlalu aktif untuk ditanam di kelas dan dibuat memperhatikan dosen. Tapi menariknya, itupun dilakukan juga. Memang mereka jauh lebih penurut dibandingkan mahasiswa Indonesia. Tapi, diberi kesempatan sedikit saja untuk bebas, bisa bebas tak terkendali. Rasanya seperti burusaha menutup koper yang kelebihan isi, "tekan..tekan.. kunci... dan jangan dibuka lagi, kalo nggak mau amburadul".
Mahasiswa di sini lebih tidak suka hal-hal teoritis dan diskursif dibandingkan mahasiswa Indonesia. Ini juga yang bikin "tebar pesona" dikelas jadi perjuangan hidup mati. Apalagi untuk aku, yang selama ini lebih sering berhasil "memikat" di kelas Arsitekturku di ITB.. wuih! gak mau kalah lageeeee...
[3]
TAPI...............
TAPI...............
Kalo sudah disuruh ke lapangan, dengan petunjuk yang jelas... pekerjaan mereka... superb, amazing! Technical Drafting yang lengkap, teurkur, dan mereka selalu mengerjakan dengan semangat kebersamaan.
Memang, banyak faktor yang mempengaruhi ini. Salah satunya, di India ada sebuah event ritual arsitektural Tahunan yang disebut/diselengarakan oleh NASA (National Association of Students of Architecture - "www.nasaindia.co.in"), yang diselengarakan asosiasi profesi arsitek di india ("www.iia-india.org/aboutiia.shtml"). Event ini menjadi ajang kompetisi pembuatan dokumentasi arsitektur. Biasanya mahasiswa dari sebuah sekolah arsitektur akan memilih satu bangunan, atau dokumentasi kuno, dan mempresentasikan dalam sebuah drafting drawing dan presentasi yang bagus dan unik. Ritual ini benar-benar memiliki nilai sakral dikalangan mahasiswa dan membuat mereka bahkan bernai mati untuk tidak lulus satu mata kuliah demi kemenangan sekolah mereka. Faktor lain, di sekolah saya ini, rural architecture menjadi salah satu topik mata kuliah yang semuanya bertumpu pada dokumentasi lapangan.
Jadi nampaknya, lepas dari apakah teori atau praktek, kegiatan lapangan adalah aktivitas belajar yang paling diminati oleh mereka. Di sini mereka seperti bebas ungekspresikan adrenalin mereka. Sama seperti ketika mereka sangat bebas berteater. Mahasiswa ini, tanpa institusi seni, ataupun teater. Untuk event-event khusus mereka dalam satu angkatan bisa mempersiapkan sebuah street play yang luar biasa. Dalam event seperti ini biasanya ada dosen yang mengawai. Tapi sepertinya mereka juga tidak terlalu penting. Jingkrak-jingkrak memang sudah ada di dalam darah daging mereka rupanya. Dalam acara-acara perayaan sehari-hari, aku juga tidak pernah melihat mereka melakukan rehearsal. Mereka langung jingkrak-jingkrak saja di lapangan. AKu belajar "loncat-loncat" dan disko juga dari mereka. Bayangkan saja sepemalu apapun mereka, kalo sudah urusan dance floor... buas mereka semua , tanpa kecuali. Tanpa atau dengan teori, tanpa atau dengan dosen, sepertiya semua metoda yang mengoptimalkan adrenalin mereka adalah yang paling optimal.
[4]
Inilah situasi yang agak membedakan antara pengalaman saya mengajar di ITB dan SAP Anna University Chennai. Mahasiswa SAP lebih Spartan daripada mahasiswa ITB. Mahasiswa kita lebih Greeco daripada mereka. Saya terus terang lebih menikmati diskusi arsitektural di kelas Arsitektur Modern atau Teori Arsitektur di ITB. Mahsiswa jarang yang tidur dan diskusi jalan bebas hambatan. Di SAP mereka juga tidak tidur, tapi juga tidak hadir di kelas. Daripada bertanya hal-hal yang menarik perhatian berkenaan dengan tema kuliah, seperti halnya mahasiswa AR.ITB, mahasiwa SAP sepertinya lebih tertarik untuk menanyakan "jadi mau anda kami harus apa? nanti kami akan kerjakan".
Anyway, ini merupakan pengalaman menarik. Mengajar dalam bahasa Inggris, di kelas berbahasa Inggris. Dan not bad juga. Gini-gini, untuk mata kuliah yang sama tahun 2008, hasil penilaian kualitas mengakar departemen sempat menempatkan aku di ranking kedua dari seluruh dosen di tempatku. Tahun 2008 aku sempat dapet compliment dari dua mahasiswa Amerika dan sekarang juga jadi tempat curhat mahasiswa Spanyol untuk berbagai pertanyaan arsitektur yang biasanya sungkan mereka tanyakan ke pengajar lain (yang memang relatif kaku).
Memang di sekolah ini exchange student sudah jadi peristiwa harian. Kurikulum berbahasa Inggris membuat mereka tidak perlu memodifikasi apa-apa. Mahasiswa itu benar-benar mengikuti semua struktur perkuliahan dan tradisi mahasiswa lain. Karena inilah maka mereka bisa membuat banyak link termasuk credit-exchange dengan sekolah lain di Eropa, Amerika dan Australia. Padahal rangking Web-O-Metric mereka 2900-an sedangkan ITB masih bagusan rangking 500-an masuk ke 600
No comments:
Post a Comment