Friday, October 22, 2010

Seminar Gambar Kerja

"Don't be afraid of working drawing, if "U" love architecture" (Murali,2010)





[1]

Pada tanggal 20 hingga 22 November 2010 ini di SAP, diselenggarakan sebuah kegiatan akademis-arsitektural yang cukup menarik, Seminar and Interactive Exhibition on :Architectural Working Drawing and Detailing. Kegiatan ini melibatkan seluruh mahasiswa dan pengajar sebagai penyelenggara dan peserta, dan menghadirkan arsitek-arsitek profesional India.

Saya, sementara ini lebih seing menyaksikan presentasi seorang arsitek membahas karya, konsep, dan manifestasinya dalam desain. Tapi baru kali ini saya menyaksikan ajang presentasi akademis bagi para arsitek yang mendemonstrasikan cara mereka mempresentasikan ide mereka; bagaimana mereka berupaya membuat pengamat, pelaksana atau pemakai jasanya memahami gambar buatanya. Seebelum ini saya tidak pernah membayangkan bahwa presentasi mengenai presentasi "utilitas" dan dan service area bisa demikian menarik perhatian, mengundang tawa, dan lebih mirip seperti sebuah monologue karena sang pembicara menceritakan secara empatik kisah-kisah pengalaman mempresentasikan karya rekayasa utulitas dan servis dalam gambar kerja.


[2]

Hari pertama adalah acara pembukaan. Para arsitek diundang untuk mempresentasikan karya gambar grafisnya. Dua hari berturut-turut kemudian, termasuk hari ini, adalah interaksi khusus dengan para arsitek tersebut. Di ruang pameran, para arsitek itu memajang karya mereka, dan semua adalah gambar kerja. Dalam dua hari itu mereka bersiap sedia di masing-masing pojoknya, dan pada jam-jam yang sudah dijadwalkan, selama kurang lebih dalam 1 jam seluruh mahasiswa, S1, S2 S3 (terutama untuk S1 dan S2 jurusan Desain) diwajibkan mendatangi salah satu pojok dan masing-masing arsitek itu menceritakan pengalaman dan masalah yang dihadapi dalam membuat gambar kerja. BUKAN PENGALAMAN KONSEP, MAAF JANGAN SALAH. Tapi pengalaman menggambar gambar kerja, manajemen gambar dan teknik-teknik menggambar. Lagi-lagi, di ruang pameran ini, mahasiswa seperti terserap perhatiannya di pojok arsitek konsultan service dan utilitas. Sang arsitek Mr. J Subramaniam bernar-benar memukau dengan "kung-fu" draftingnya.

[3]

Saya pikir ini adalah suatu event kegiatan yang menarik untuk diselenggarakan di tempat kita. Dari apa yang saya ikuti lewat seminar ini, memang saya jadi melihat bahwa lepas dari ada atau tidaknya standard gambar kerja, pelajaran presentasi gambar kerja idealnya memang disampaikan oleh arsitek profesional, sang pelakunya itu sendiri. Karena ternyata ilmu gambar kerja selain pada teknik umum juga terselip pada peristiwa profesional, proses kreatifitas, kebijaksanaan dan strategi profesional kantor itu sendiri. Mungkin itu sebabnya ketika presentasi gambar kerja disampaikan melalui alur akademis yang apriori di kelas jadi kurang menarik, karena baik pembicara maupun pendengar tidak dibekali sebuah situasi dan alasan yang bisa menjelaskan mengapa suatu gambar harus tampil dengan cara tertentu. Pengetahuan tentunya bisa diperoleh dengan cara verbal di kelas. Namun proses kreatif yang terkandung di dalamnya akan terserap dengan baik bila disampaikan oleh pelakunya.

Karena itu seperti diungkapkan di ungkapan atas, jangan takut dengan gambar kerja bila engkau mencintai arsitektur, karena gambar kerja adalah cara untuk "mengejar dan memacar" arsitektur... demikian seorang penonton sempat berkomentar dengan kocak.

[4]

Beberapa arsitek menjelaskan gambar kerja pada level yang dasar, sebuah teknik memindahkan gambar ke kepala kontraktor dan klien. Beberapa arsitek menjelaskan dengan filosofi yang cukup mendalam

AR. Murali (Arsitek di India digelari AR. bukan Ir, maupun ST) dalam presentasinya memulai diksusi dengan sebuah pertanyaan kepada mahasiswa:

"Siapa yang ingin jadi arsitek di dalam kelas ini?"


.............dan tidak lebih dari 10% dari peserta mahasiswa yang mengangkat tangannya ... (oops!)
tapi, baiklah.....
Pertanyaan berikutnya, khususnya untuk mahasiswa arsitektur yang berkeinginan menjadi arsitek :

"Siapa gerangan arsitek favoritmu? jika kamu menjadi arsitek kamu ingin jadi seperti siapa"

Suara-suara pun muncul dari mahasiswa, "Laurie Baker, BV Doshi, Zaha Hadid, dan sebagainya". Setelah itu ia membalas "Oooo gitu..... kalau saya suka Nari Gandhi, Anjalendran dari Srilanka, dan Jaisim".

Dari percakapan ini kemudian dia menjelaskan bahwa setiap arsitek memiliki kreatifitas yang menuntut penyelesaian tersendiri, dan dengan sendirinya menuntut teknik presentasi yang unik, karena mereka memiliki metoda merancang yang unik pula.

Lalu ia mulai menjelaskan karya arsitekutrnya. Ar Murali senang merancang langsung di site. Arsitek panutannya itu semuanya ada di aliran ini. Untuk suatu kasus gambar kerja ia menjelaskan, "bagi saya gambar kerja menjadi penting, karena orang yang anda temui ketika anda berdiskusi arsitektur adalah orang pertama. Keesokan harinya anda akan menemui orang-orang asing seperti ibunya, pamanya, saudaranya, dan seluruh anggota keluarga besar. Tanpa gambar kerja bagaimana saya bisa berkompromi dengan mereka, dan memutuskan mana yang usdah diputuskan dan mana yang tidak". Untuk karya artistik individual lainya saya bisa berinovasi dengan kreatifitas lapangan.

AR. M.S. Venkateswaram, seorang konsultan service, menjelaskan dengan penuh semangat proyeknya untuk sebuah bangunan konsultan IT terkenal di Chennai, Ascendas. Amazing, sebuah diskusi mengenai utilitas bangunan yang disampaikan secara oratorik, penonton terpesona, dan diakhiri dengan aplause luar biasa. Alurnya lebih mirip sebuah appregioso dalam opera Italia ketimbang sebuah presentasi akademis. Penonton juga dibawa dalam suasana kalutnya ketika harus berhadapan denga arsitek yang digambarkanya seperti "Tuhan" (heheheheh). Seperti kepada kebanyakan arsitek utilitas lainya, ia mengeluhkan arsitek yang selalu datang di detik-detik terakhir. Dan pada dasarnya ia menunjukan kepada khalayak "apa arti sebuah bangunan konsultasi software" dan bagaimana konsekuesinya terhadap working drawing yang harus dibuat. Ini adalah bangunan yang akan dijaga 24 jam penuh dengan sistem kemanan tingkat tinggi yang mengantisipasi ancaman teroris. Ini adalah bangunan dengan tingkat keamanan yang tinggi. Peristiwa post-production film-film Holywood (bukan Bollywood saja), semua provider komunikasi dan telekomunikasi yang ada di seluruh dunia dikendalikan dari sini. Untuk masuk ke dalam kantinya saja pengunjung harus menyerahkan kartu identitas dan melalu detektor radioaktif. Baginya, sati garis yang ditarik sama seperti kabel yang diutak-utik tim penjinak bom.

AR.Biju Kuriakose juga menjelaskan drama yang tak kalah menariknya walaupun dalam skala yang jauh lebih kecil, untuk sebuah konstruksi kolam renang!




***

Cerita lain yang serupa..............

Saya memiliki banyak teman penerjamah puisi english tranlator atau writer.

Mereka akan menelepon, atau pontang-panting lari dari komputer mereka ke rumah sang penulis puisi (bila sang penulis puisi adalah penulis yang tidak punya telepon), hanya untuk bertanya sekejap kepada penulis puisi, "apa peristwa yang mendorong anda menulis syair ini" atau "apa yang anda maksud dengan syair ini"... Pertanyaan ini bisa dijawab tidak lebih dari lima menit, dan sang penerjemah ini kembali kerumah dan menyelesaikan pekerjaan mereka. ATAU sebalinya. "Rumah" dimata seorang penulis puisi, bisa lebih daripada sekedar sebuah bangunan. Sebagai metapfora, sebagai analogi, sebagai obyek, sebagai archetype. Kepada sang penulis puisi seorang penerjemah akan menggali lebih dalam makna tentang rumah.

Dan dari perbincangan semalam suntuk mengenai satu kata "rumah" sang penerjemah bisa menyelesaikan sebuah puisi yang tak lebih dari satu lembar A4 font 14 berspasi satu setengah. Mereka-mereka, para penerjemah ini adalah orang-orang dibalik panggung yang mebuat puis-puisi dan novel para penulis India bisa hadir di pasar internasional. Sementara san penerjamh ini sendiri, seperti halnya drafter, hanya akan menerima gaji dari penerbit.

Peristwa penerjemahan dan drafting ternyata bukan cerita sederhana. Bukan sekedar menulis atau menggambar. Mungkin itu sebabnya ketika secara sederhana materi ini diajarkan oleh pengajar JUGA dipelajari oleh pelajar tanpa perhatian dan keinginan tahu yang besar, upaya drafting dan writing akan berlangsung kurang baik Peristwa dan cerita inilah yang mungkin sebetulnya penting ditransferkan dalam belajar mengajar, selain teknik penggambaran itu sendiri

:-)

No comments:

Post a Comment