Judul : ARCHITECTURE OF FEAR
Editor : Nan Elin
Kontributor tulisan :
Dora Epstein, Anne Troutman, John Case, Michael Dear dan Jurgen Van Mash, Charles Jencks, Richard Ingersol, Fred
Dewey, Udo Greinacher, Margaret Wetheim, Jane Harrison, Edward J. Blakey and Mary Gail Snyder, Peter
Marcuse, Kevin Sites, Julius
Schulman, Lois M. Takahashi, David Turnbull, Sharon E Sutton
Tahun :
1997 (edisi kesatu)
Penerbit : Princeton Architectureal
Press, New York
Architecture
of Fear merupakan kumpulan essay yang disunting dalam berbagai wacana
sosio-kultural, dan psikologis, meliputi bangunan hingga kota. Dengan banyak
menyoroti masalah kerawanan sosial distrik-distrik kumuh dan
miskin di Amerika, buku ini lebih menampilkan “Ketakutan” sebagai salah satu aspek yang mewarnai bentukan
lingkungan binaan. Para kontributor tulisannya tidak hanya mereka dengan latar
belakang arsitektur, tapi juga sosiologi psikologi, fisika, seni bahkan
sinematografi. Nan Elin, sang Editor, adalah doktor wanita dalam perancangan
kota dan perencanaan, di University of Cincinnati. Sebelum Architecture of Fear. pada tahun 1996 Elin sempat menerbitkan buku
yang ditulisnya sendiri, berjudul Posmodernism
Urbanism, yang diterbitkan Balckwell publisher.
Architecture
of Fear merupakan rekaman
berbagai setting lingkungan, sense of
place, dan pandangan-pandangan tentang desain lingkungan binaan, yang
menanggapi atau timbul akibat fenomena ketakutan. Ada dua titik berangkat yang
digunakan para penulisnya dalam menjelaskan
Fear. Beberapa penulis mengkerangkakan Fear
sebagai potensi yang terkandung pada diri manusia, terbentuk sejak dalam rahim ibu, lalu secara tidak sadar terproyeksikan pada struktur ruang fisik.
Sisanya menjelaskan Fear sebagai konsekuensi struktur gubahan tertentu yang
memungkinkan aktivitas vandal.
Dalam Bagian
I, Nan Elin, Richard Sennet, Steven Flusty, Jane Harrison, Julius Schulman
dan Kevin Sites menampilkan wacana segregasi spasial sebagai ekspresi fenomena
ketakutan. Harrison, Schulman dan Sites mengutarakan pandangannya Lewat puisi,
foto dan komposisi grafis. Dengan menyitir sejarah Revolusi Perancis hingga
Posmodernisme, Elin meperlihatkan fenomena “ketakutan” sebagai salah satu
faktor yang menggulirkan perkembangan arsitektur. Sennet menampilkan segregasi
spasial sebagai akibat tumbuhnya kelompok etnis, agama atau kesamaan minat,
yang di dalam subkultur-subkultur tersebut mereka menemukan rasa
kebersamaan dan aman. Flusty menguraikan
kecenderungan karakter spasial tempat
berlindung, seperti ruang yang tersembunyi dan tersamar. Peter Marcuse,
Edward J. Blakely dan Mary Gail Snyder,
menyoroti fenomena dinding, pembatasan dan penggerbangan sebagai respon
pragmatis mengatasi rasa tidak aman.
Dengan sudut pandang psikoanalis, psikologis dan
sosial-budaya pada bagian II Dora Epstein, Anne
Troutman dan John Chase memperlihatkan bagaimana kelaziman-kelaziman sosial
tertentu yang ternyata juga berakar pada struktur mental dan budaya manusia-
seperti gender- merupakan letak akar masalah ketakutan. Ketiganya
menggaris-bawahi satu konsep spasial
yang dibutuhkan untuk mengatasi rasa takut dan tidak aman yaitu konsep akses
terhadap privasi.
Pada bagian
III David Turnbull , Louis Takahashi, Sharon Sutton, Michael Dear dan
jurgen Van Mash menyajikan contoh-contoh tanggapan partisipatif terhadap
masalah ketakutan dalam konteks masalah kolektif kemasyarakatan. Tema yang dominan
dalam bagian ini adalah keberagaman dan disintegrasi. Dear dan Van Mash
mengetengahkan proyek sosial pemukiman para tuna wisma. Upaya ini berangkat
dari fakta bahwa tuna wisma berkeliaran merupakan sumber kerawanan dan rasa takut. Turnbull dan
Takahashi mengusulkan upaya pendampingan,
yang bertujuan meningkatkan fungsi
kontrol serta rasa kekerabatan antar warga. Sutton menganjurkan pendidikan
sejak dini sebagai media pemberdayaan nilai-nilai kemanusiaan, wawasan
keberagaman serta kebersamaan. Charles Jencks dan Richard Ingersol menguraikan
wacana keberagaman sebagai pemicu kerawanan. Dengan latar belakang wacana
dikotomistik Modern - Posmodernisme,
Jencks menganjurkan konsep desain yang dapat menampung keragaman, dan yang
menghindari konsep elitis yang stabil. Ingersol menganjurkan pandangan tentang
lansekap kota yang ekologis, yaitu yang berorientasi pada keseimbangan tatanan
dan proses alami, bukan pada bentuk fisik dari kota itu sendiri.
Pada Bagian
IV Fred Dewey, Udo Greinacher, dan Margaret Wetheim menyajikan fenomena
historis terkini wacana ketakutan dan
arsitektur yang berkaitan dengan
paradigma informasi. Lingkup paradigma ini tidak hanya teknologi informasi,
tapi juga wacana sosio-kultural yang mengitarinya. Dewey dan Greinacher banyak menyitir munculnya komunitas-komunitas
virtual berlabel etnis, agama dan minat, mulai dari konteks hubungan sosial
langsung hingga yang menggunakan media elektronik. Media komunitas virtual ini
di satu sisi merupakan sarana orientasi diri yang efektif mengatasi rasa kurang
nyaman.
Buku Architecture
of Fear ini tidak menekankan pada aspek teknis, pemecahan pragmatis atas
masalah ketakutan dan lingkungan binaan. Beberapa topiknya bahkan menganjurkan
penyelesaian yang tidak langsung berkenaan dengan rekayasa lingkungan binaan.
Namun kumpulan essay ini cukup menarik
disimak sebagai wawasan untuk lebih
meningkatkan kesadaran akan kompleksitas masalah dan fenomena lingkungan
binaan. Secara kritis uraian ini bisa kian mengasah kepekaan dan kreatifitas
dalam menangkap setiap fenomena lingkungan binaan . (Iindah Widiastuti)
No comments:
Post a Comment