Wednesday, March 28, 2012

Resensi Buku: ARCHITECTURE OF FEAR (1997)

Judul                           : ARCHITECTURE OF FEAR

Editor                          : Nan Elin


Kontributor tulisan      : Dora Epstein, Anne Troutman, John Case, Michael Dear dan Jurgen Van Mash,  Charles Jencks, Richard Ingersol, Fred Dewey,  Udo Greinacher, Margaret Wetheim,  Jane Harrison,  Edward J. Blakey and Mary Gail Snyder, Peter Marcuse, Kevin Sites,  Julius Schulman,  Lois M. Takahashi,  David Turnbull, Sharon E Sutton
Tahun                         : 1997 (edisi kesatu)
Penerbit                      : Princeton Architectureal Press, New York


Architecture of Fear merupakan kumpulan essay  yang disunting dalam berbagai wacana sosio-kultural, dan psikologis, meliputi bangunan hingga kota. Dengan banyak menyoroti  masalah  kerawanan sosial distrik-distrik kumuh dan miskin di Amerika, buku ini lebih menampilkan “Ketakutan” sebagai  salah satu aspek yang mewarnai bentukan lingkungan binaan. Para kontributor tulisannya tidak hanya mereka dengan latar belakang arsitektur, tapi juga sosiologi psikologi, fisika, seni bahkan sinematografi. Nan Elin, sang Editor, adalah doktor wanita dalam perancangan kota dan perencanaan, di University of Cincinnati. Sebelum Architecture of Fear. pada tahun 1996 Elin sempat menerbitkan buku yang ditulisnya sendiri, berjudul Posmodernism Urbanism, yang diterbitkan Balckwell publisher.

Architecture of Fear merupakan rekaman berbagai setting lingkungan, sense of place, dan pandangan-pandangan tentang desain lingkungan binaan, yang menanggapi atau timbul akibat fenomena ketakutan. Ada dua titik berangkat yang digunakan para penulisnya dalam menjelaskan Fear. Beberapa penulis mengkerangkakan Fear sebagai potensi yang terkandung pada diri manusia, terbentuk sejak dalam  rahim ibu, lalu secara tidak sadar  terproyeksikan pada struktur ruang fisik. Sisanya menjelaskan Fear sebagai  konsekuensi struktur gubahan tertentu yang memungkinkan aktivitas vandal.

Dalam Bagian I, Nan Elin, Richard Sennet, Steven Flusty, Jane Harrison, Julius Schulman dan Kevin Sites menampilkan wacana segregasi spasial sebagai ekspresi fenomena ketakutan. Harrison, Schulman dan Sites mengutarakan pandangannya Lewat puisi, foto dan komposisi grafis. Dengan menyitir sejarah Revolusi Perancis hingga Posmodernisme, Elin meperlihatkan fenomena “ketakutan” sebagai salah satu faktor yang menggulirkan perkembangan arsitektur. Sennet menampilkan segregasi spasial sebagai akibat tumbuhnya kelompok etnis, agama atau kesamaan minat, yang di dalam subkultur-subkultur tersebut mereka menemukan rasa kebersamaan  dan aman. Flusty menguraikan kecenderungan  karakter spasial tempat berlindung, seperti ruang yang tersembunyi dan tersamar. Peter Marcuse, Edward  J. Blakely dan Mary Gail Snyder, menyoroti fenomena dinding, pembatasan dan penggerbangan sebagai respon pragmatis  mengatasi rasa tidak aman.

Dengan sudut pandang psikoanalis, psikologis dan sosial-budaya  pada bagian II  Dora Epstein, Anne Troutman dan John Chase memperlihatkan bagaimana kelaziman-kelaziman sosial tertentu yang ternyata juga berakar pada struktur mental dan budaya manusia- seperti gender- merupakan letak akar masalah ketakutan. Ketiganya menggaris-bawahi  satu konsep spasial yang dibutuhkan untuk mengatasi rasa takut dan tidak aman yaitu konsep akses terhadap privasi.

Pada bagian III David Turnbull , Louis Takahashi, Sharon Sutton, Michael Dear dan jurgen Van Mash menyajikan contoh-contoh tanggapan partisipatif terhadap masalah ketakutan dalam konteks masalah kolektif kemasyarakatan. Tema  yang  dominan dalam bagian ini adalah keberagaman dan disintegrasi. Dear dan Van Mash mengetengahkan proyek sosial pemukiman para tuna wisma. Upaya ini berangkat dari fakta bahwa tuna wisma berkeliaran merupakan sumber  kerawanan dan rasa takut. Turnbull dan Takahashi mengusulkan upaya  pendampingan, yang bertujuan meningkatkan  fungsi kontrol serta rasa kekerabatan antar warga. Sutton menganjurkan pendidikan sejak dini sebagai media pemberdayaan nilai-nilai kemanusiaan, wawasan keberagaman serta kebersamaan. Charles Jencks dan Richard Ingersol menguraikan wacana keberagaman sebagai pemicu kerawanan. Dengan latar belakang wacana dikotomistik  Modern - Posmodernisme, Jencks menganjurkan konsep desain yang dapat menampung keragaman, dan yang menghindari konsep elitis yang stabil. Ingersol menganjurkan pandangan tentang lansekap kota yang ekologis, yaitu yang berorientasi pada keseimbangan tatanan dan proses alami, bukan pada bentuk fisik dari kota itu sendiri.

Pada Bagian IV Fred Dewey, Udo Greinacher, dan Margaret Wetheim menyajikan fenomena historis terkini  wacana ketakutan dan arsitektur  yang berkaitan dengan paradigma informasi. Lingkup paradigma ini tidak hanya teknologi informasi, tapi juga wacana sosio-kultural yang mengitarinya. Dewey  dan Greinacher  banyak menyitir munculnya komunitas-komunitas virtual berlabel etnis, agama dan minat, mulai dari konteks hubungan sosial langsung hingga yang menggunakan media elektronik. Media komunitas virtual ini di satu sisi merupakan sarana orientasi diri yang efektif mengatasi rasa kurang nyaman.

Buku Architecture of Fear ini tidak menekankan pada aspek teknis, pemecahan pragmatis atas masalah ketakutan dan lingkungan binaan. Beberapa topiknya bahkan menganjurkan penyelesaian yang tidak langsung berkenaan dengan rekayasa lingkungan binaan. Namun kumpulan essay ini cukup  menarik disimak  sebagai wawasan untuk lebih meningkatkan kesadaran akan kompleksitas masalah dan fenomena lingkungan binaan. Secara kritis uraian ini bisa kian mengasah kepekaan dan kreatifitas dalam menangkap setiap fenomena lingkungan binaan . (Iindah Widiastuti)

No comments:

Post a Comment