Wednesday, November 17, 2010

The (perhaps) Last Divali 04.11.2010

A Conversation..............
Bono: Obooo..
today I wept a bit in bus
Journey trip today in bus was amazing
and divine
among firecrackers
and fireworks...
Obooo this could be the last Divali I watch with my eyes....
for this term
PhD term

Bono: yes.
All pictures play in my mind Oboo
Even people cooking parotha or peoplle selling flowers
They looked so beautiful tonight
Have been passing the same path for more than at least 2 years
Today they looked wonderful

Obo: it's like everything taking on an unreal beauty when the sun sets.

Bono: Yes obo... yes
in slight moment
it potrayed everything
PM then gone
What do you mean with unreal beauty?

Obo: beauty that is momentary...that appears just at that moment...whe night
falls...when everything turns quiet...


Bono: yes obo.. yes
all faces played in my mind
PM all people I know here
friends, collegeus, people I know
M (Meena), L (Leena), KK (Ilan)
and of course
You
and You and You..
all movies I watched
even that guy I slapped
during Durga pooja
and You, and you and you..
I dont want this to end
Love you Obo

Obo: love you too
ummz

12:02 AM Bono: ummmmmmzz


indeed This is the 25th months of my stay in India. My PhD is nearing to the end and therefore recurrent events. such as festivals, Durga Pooja, Navarathri, Birthdays, Pongal, Onam turn out to be the last thing to celebrate, during my PhD terms of stay in India since 2007.

Tonight in the bus....window was like a wide-screen of a documentary movie.

Mylapore tank, a temple complex with a big pond as its eye-catching landmark. It should be more obvious if the fence were removed. On the north side is the main temple, standing conical. I still remember how I used to be reminded, whenever I pass by this place, Pak Bagoes, article in his book about Alun-Alun concept, a public square which might be derived from this form of tank. Indeed this kind of set, tank, temple, markets and main hub are always find everywhere in places I visit in South India. it is more like signifier of a place centre.

And My bus 29C is always running RK Mutt road where the main spine of Mylapore area laid along which temples sprung in every four-road junctions. Then again it reminds me of the perempatan agung concept in Balinese villages.

And during this Divali, this places are well crowded, more alive, intruded by occasional firecrackers and fireworks. Biriyani shops, small musics shops that I have been only planning to visit and never do so far, food-stalls. They look so different.

Off main RK Mutt road of Mylapore, there is a big compound, Nagarathar, This building or compound is traditionally owned by Chetty Community. they appear as civic compound wherein is some community organization, bank, education centers. Anytime I passed by this compound, again my mind always play a riddle..... of how this Nagarathar and Chetty had anything to do with legend of Nagari and Cati si Bilang Pandai. Indeed Chetty Community is known as smart business society with respect to monetary management. This had been all the feature attached to this descendant of Cati si Bilang Pandai. And Nagarathar itself, whatever relation with the concept of Nagaram/ Nagara, are more as a managing body for a business cycle. Again this reminds me of the market concept attached to Nagari. I have been trying to compile articles about this people.

In Luz Corner "Our Lady of Light", built on 17th century, featuring Portuguese styles and as well reminding me that part of Yogyakarta Palace in java, the stucco facede, Taman sari. Who were they who might have ever written about, any geometrical pattern that may remotely connect churches starting from that place, ending in Santhome Cathedral, along which old churches were laid in a quite an order? of how two main urban pattern of Church and temple was juxtaposed on one spot? Having not yet gone deep in these matters, whenever passing these place, same questions always appear in my mind.

Mylapore has been the main old spine that connect Radhakrishnan road, Nunggabakam to Adyar, where I stay... Beyond this area not very far, is another old quarter, Triplicane near Marina beach. The place once was shocked by Tsunami drifted from Indonesia. That place was still strange for me... But when the bus turned of the RK Mutt road, right yellow pages bustand, I knew, Triplicane laid somewhere beyond that place.


My 29C bus was running very quiet today. Not much passenger. Think they were out there, buying sweets and firecracker. Some passengers I repeatedly notified, two Manipuri girls. One would get down in Savera Hotel bu stand, while other in Luz corner. they are the only ones resembling my face.

This firecracker also interest me much. As I got down the bus, I stumbled a while in front of big firecracker market. Old, young, men, women, children, adults, they crowded firecrackers as if fish mart! Reminds me of how things like these has turned out impossible in Indonesiam since firecracker has been banned. Are we (the Indonesian) exaggerating too much to ban such playful tradition or have not much idea how to control it? Whatever it is... it is still a playful things here, enjoyed by people, especially this Divali, the Festival of Light!

Walking along Gandhi Nagar to my home.....My eyes were attracted by new Indian made small white five seater cars, Tata magic, passing over the road. The new autoshare (Angkot: Indonesia). But it is also consumed for public need, domestic property. So simple, so small. It has simple modular set of open 'pick up' body which allow various modification. Five seater, but it could carry 8 people. Two front and 6 back. Again it makes me wonder, such simple thing.... is it so difficult to be made by Indonesia? Or, we Indonesian always hesitate to by personal car that appear like an autoshare :-)

Tonight they were beautiful..... Passing a Biriyani shop... Big dinner with
Two pack of sweets, all gifts. That Muslim shop keeper had known me very well. As i stepped on the shops, he would as usual nicely greeted me and as if automatic, everyone would be doing things to prepare my Biriyani. As always, i never say anything, just pay. They know what I want :-)

Different night, different feeling....
One sweet night....that Next year, I may not see...

Happy Divali for all

Friday, October 22, 2010

Seminar Gambar Kerja

"Don't be afraid of working drawing, if "U" love architecture" (Murali,2010)





[1]

Pada tanggal 20 hingga 22 November 2010 ini di SAP, diselenggarakan sebuah kegiatan akademis-arsitektural yang cukup menarik, Seminar and Interactive Exhibition on :Architectural Working Drawing and Detailing. Kegiatan ini melibatkan seluruh mahasiswa dan pengajar sebagai penyelenggara dan peserta, dan menghadirkan arsitek-arsitek profesional India.

Saya, sementara ini lebih seing menyaksikan presentasi seorang arsitek membahas karya, konsep, dan manifestasinya dalam desain. Tapi baru kali ini saya menyaksikan ajang presentasi akademis bagi para arsitek yang mendemonstrasikan cara mereka mempresentasikan ide mereka; bagaimana mereka berupaya membuat pengamat, pelaksana atau pemakai jasanya memahami gambar buatanya. Seebelum ini saya tidak pernah membayangkan bahwa presentasi mengenai presentasi "utilitas" dan dan service area bisa demikian menarik perhatian, mengundang tawa, dan lebih mirip seperti sebuah monologue karena sang pembicara menceritakan secara empatik kisah-kisah pengalaman mempresentasikan karya rekayasa utulitas dan servis dalam gambar kerja.


[2]

Hari pertama adalah acara pembukaan. Para arsitek diundang untuk mempresentasikan karya gambar grafisnya. Dua hari berturut-turut kemudian, termasuk hari ini, adalah interaksi khusus dengan para arsitek tersebut. Di ruang pameran, para arsitek itu memajang karya mereka, dan semua adalah gambar kerja. Dalam dua hari itu mereka bersiap sedia di masing-masing pojoknya, dan pada jam-jam yang sudah dijadwalkan, selama kurang lebih dalam 1 jam seluruh mahasiswa, S1, S2 S3 (terutama untuk S1 dan S2 jurusan Desain) diwajibkan mendatangi salah satu pojok dan masing-masing arsitek itu menceritakan pengalaman dan masalah yang dihadapi dalam membuat gambar kerja. BUKAN PENGALAMAN KONSEP, MAAF JANGAN SALAH. Tapi pengalaman menggambar gambar kerja, manajemen gambar dan teknik-teknik menggambar. Lagi-lagi, di ruang pameran ini, mahasiswa seperti terserap perhatiannya di pojok arsitek konsultan service dan utilitas. Sang arsitek Mr. J Subramaniam bernar-benar memukau dengan "kung-fu" draftingnya.

[3]

Saya pikir ini adalah suatu event kegiatan yang menarik untuk diselenggarakan di tempat kita. Dari apa yang saya ikuti lewat seminar ini, memang saya jadi melihat bahwa lepas dari ada atau tidaknya standard gambar kerja, pelajaran presentasi gambar kerja idealnya memang disampaikan oleh arsitek profesional, sang pelakunya itu sendiri. Karena ternyata ilmu gambar kerja selain pada teknik umum juga terselip pada peristiwa profesional, proses kreatifitas, kebijaksanaan dan strategi profesional kantor itu sendiri. Mungkin itu sebabnya ketika presentasi gambar kerja disampaikan melalui alur akademis yang apriori di kelas jadi kurang menarik, karena baik pembicara maupun pendengar tidak dibekali sebuah situasi dan alasan yang bisa menjelaskan mengapa suatu gambar harus tampil dengan cara tertentu. Pengetahuan tentunya bisa diperoleh dengan cara verbal di kelas. Namun proses kreatif yang terkandung di dalamnya akan terserap dengan baik bila disampaikan oleh pelakunya.

Karena itu seperti diungkapkan di ungkapan atas, jangan takut dengan gambar kerja bila engkau mencintai arsitektur, karena gambar kerja adalah cara untuk "mengejar dan memacar" arsitektur... demikian seorang penonton sempat berkomentar dengan kocak.

[4]

Beberapa arsitek menjelaskan gambar kerja pada level yang dasar, sebuah teknik memindahkan gambar ke kepala kontraktor dan klien. Beberapa arsitek menjelaskan dengan filosofi yang cukup mendalam

AR. Murali (Arsitek di India digelari AR. bukan Ir, maupun ST) dalam presentasinya memulai diksusi dengan sebuah pertanyaan kepada mahasiswa:

"Siapa yang ingin jadi arsitek di dalam kelas ini?"


.............dan tidak lebih dari 10% dari peserta mahasiswa yang mengangkat tangannya ... (oops!)
tapi, baiklah.....
Pertanyaan berikutnya, khususnya untuk mahasiswa arsitektur yang berkeinginan menjadi arsitek :

"Siapa gerangan arsitek favoritmu? jika kamu menjadi arsitek kamu ingin jadi seperti siapa"

Suara-suara pun muncul dari mahasiswa, "Laurie Baker, BV Doshi, Zaha Hadid, dan sebagainya". Setelah itu ia membalas "Oooo gitu..... kalau saya suka Nari Gandhi, Anjalendran dari Srilanka, dan Jaisim".

Dari percakapan ini kemudian dia menjelaskan bahwa setiap arsitek memiliki kreatifitas yang menuntut penyelesaian tersendiri, dan dengan sendirinya menuntut teknik presentasi yang unik, karena mereka memiliki metoda merancang yang unik pula.

Lalu ia mulai menjelaskan karya arsitekutrnya. Ar Murali senang merancang langsung di site. Arsitek panutannya itu semuanya ada di aliran ini. Untuk suatu kasus gambar kerja ia menjelaskan, "bagi saya gambar kerja menjadi penting, karena orang yang anda temui ketika anda berdiskusi arsitektur adalah orang pertama. Keesokan harinya anda akan menemui orang-orang asing seperti ibunya, pamanya, saudaranya, dan seluruh anggota keluarga besar. Tanpa gambar kerja bagaimana saya bisa berkompromi dengan mereka, dan memutuskan mana yang usdah diputuskan dan mana yang tidak". Untuk karya artistik individual lainya saya bisa berinovasi dengan kreatifitas lapangan.

AR. M.S. Venkateswaram, seorang konsultan service, menjelaskan dengan penuh semangat proyeknya untuk sebuah bangunan konsultan IT terkenal di Chennai, Ascendas. Amazing, sebuah diskusi mengenai utilitas bangunan yang disampaikan secara oratorik, penonton terpesona, dan diakhiri dengan aplause luar biasa. Alurnya lebih mirip sebuah appregioso dalam opera Italia ketimbang sebuah presentasi akademis. Penonton juga dibawa dalam suasana kalutnya ketika harus berhadapan denga arsitek yang digambarkanya seperti "Tuhan" (heheheheh). Seperti kepada kebanyakan arsitek utilitas lainya, ia mengeluhkan arsitek yang selalu datang di detik-detik terakhir. Dan pada dasarnya ia menunjukan kepada khalayak "apa arti sebuah bangunan konsultasi software" dan bagaimana konsekuesinya terhadap working drawing yang harus dibuat. Ini adalah bangunan yang akan dijaga 24 jam penuh dengan sistem kemanan tingkat tinggi yang mengantisipasi ancaman teroris. Ini adalah bangunan dengan tingkat keamanan yang tinggi. Peristiwa post-production film-film Holywood (bukan Bollywood saja), semua provider komunikasi dan telekomunikasi yang ada di seluruh dunia dikendalikan dari sini. Untuk masuk ke dalam kantinya saja pengunjung harus menyerahkan kartu identitas dan melalu detektor radioaktif. Baginya, sati garis yang ditarik sama seperti kabel yang diutak-utik tim penjinak bom.

AR.Biju Kuriakose juga menjelaskan drama yang tak kalah menariknya walaupun dalam skala yang jauh lebih kecil, untuk sebuah konstruksi kolam renang!




***

Cerita lain yang serupa..............

Saya memiliki banyak teman penerjamah puisi english tranlator atau writer.

Mereka akan menelepon, atau pontang-panting lari dari komputer mereka ke rumah sang penulis puisi (bila sang penulis puisi adalah penulis yang tidak punya telepon), hanya untuk bertanya sekejap kepada penulis puisi, "apa peristwa yang mendorong anda menulis syair ini" atau "apa yang anda maksud dengan syair ini"... Pertanyaan ini bisa dijawab tidak lebih dari lima menit, dan sang penerjemah ini kembali kerumah dan menyelesaikan pekerjaan mereka. ATAU sebalinya. "Rumah" dimata seorang penulis puisi, bisa lebih daripada sekedar sebuah bangunan. Sebagai metapfora, sebagai analogi, sebagai obyek, sebagai archetype. Kepada sang penulis puisi seorang penerjemah akan menggali lebih dalam makna tentang rumah.

Dan dari perbincangan semalam suntuk mengenai satu kata "rumah" sang penerjemah bisa menyelesaikan sebuah puisi yang tak lebih dari satu lembar A4 font 14 berspasi satu setengah. Mereka-mereka, para penerjemah ini adalah orang-orang dibalik panggung yang mebuat puis-puisi dan novel para penulis India bisa hadir di pasar internasional. Sementara san penerjamh ini sendiri, seperti halnya drafter, hanya akan menerima gaji dari penerbit.

Peristwa penerjemahan dan drafting ternyata bukan cerita sederhana. Bukan sekedar menulis atau menggambar. Mungkin itu sebabnya ketika secara sederhana materi ini diajarkan oleh pengajar JUGA dipelajari oleh pelajar tanpa perhatian dan keinginan tahu yang besar, upaya drafting dan writing akan berlangsung kurang baik Peristwa dan cerita inilah yang mungkin sebetulnya penting ditransferkan dalam belajar mengajar, selain teknik penggambaran itu sendiri

:-)

Tuesday, October 19, 2010

Mahasiswaku di SAP-Anna University Chennai



[1]

sudah sejak bulan Juli lalu aku mulai mengajar di Departemen Arsitektur, Scool of Architecture and Planning SAP, Anna University Chennai, tempat aku melakukan studi doktoralku. Topik yang kuajarkan, Anthropology and Architecture, AD 065, kuliah pilihan. Sebetulnya ini adalah pengalaman kedua mengajar topik yang sama. Tahun 2008 aku juga sempat mengajar kuliah yang sama di tempat yang sama. Pada tahun 2008 profesorku meminta tolong aku untuk membantu dia mengelola satu mata kuliah. Silabus sudah ada, dan aku hanya mengembangkan dari situ.

Tidak terlalu sulit mengelola mata kuliah kuliah ini karena semua bahan sudah cukup terkuasai, dan referensi referensi yang digunakan juga cukup familiar. Roxana Waterson, Paul Oliver, dan beberapa referensi lokal India yang memang cukup baru, seperti VS Parmar dan tesis profesor saya sendiri. Silabus ini juga melibatkan Fenomenologi yang tentunya mengambil referensi utama Martin Heidegger, dan penulis lain seperti Ryykwerth, Bolnow, Norberg-Schulze. Dan di sesi terakhir aku adalah diskursus yang berkenaan dengan kota. Sisipan-sisipan lain juga aku masukan, seperti Nold EGenter, Yi Fu Tuan, Seamon.

Untuk memudahkan mahasiswa, dan TENTUNYA memudahkan aku juga untuk mengelola kegiatan mengajar dan mengkoordinasikannya dengan kesibukan PhD ku, maka aku merancang blog darurat di "indahwidiastuti.wordpress.com" . Niatku sederhana, mempersiapkan semua materi berikut referensi, dan menjalankan perkuliahan minggu demi minggu tanpa harus dipusingkan dengan persiapan. Mahasiswa juga tidak lagi punya alasan tidak memiliki catatan. Kekurangan sistem ini adalah bahwa sebetulnya dia kurang mendidik, karena mahasiswa jadi "keenakan". Tapi apalah peduliku, aku juga sibuk. Dan dalam banyak hal mahasiswa di sini lebih menyebalkan dan tak perlu dikasihani. Jadi biarlah mereka urus diri mereka sendiri.


[2]

Pengalaman mengajar mahasiswa di India cukup intriguing, dan menantang. Terus terang tidak sebagus yang aku alami di ITB. Pikiran mereka terlalu aktif untuk ditanam di kelas dan dibuat memperhatikan dosen. Tapi menariknya, itupun dilakukan juga. Memang mereka jauh lebih penurut dibandingkan mahasiswa Indonesia. Tapi, diberi kesempatan sedikit saja untuk bebas, bisa bebas tak terkendali. Rasanya seperti burusaha menutup koper yang kelebihan isi, "tekan..tekan.. kunci... dan jangan dibuka lagi, kalo nggak mau amburadul".

Mahasiswa di sini lebih tidak suka hal-hal teoritis dan diskursif dibandingkan mahasiswa Indonesia. Ini juga yang bikin "tebar pesona" dikelas jadi perjuangan hidup mati. Apalagi untuk aku, yang selama ini lebih sering berhasil "memikat" di kelas Arsitekturku di ITB.. wuih! gak mau kalah lageeeee...

[3]

TAPI...............
TAPI...............

Kalo sudah disuruh ke lapangan, dengan petunjuk yang jelas... pekerjaan mereka... superb, amazing! Technical Drafting yang lengkap, teurkur, dan mereka selalu mengerjakan dengan semangat kebersamaan.

Memang, banyak faktor yang mempengaruhi ini. Salah satunya, di India ada sebuah event ritual arsitektural Tahunan yang disebut/diselengarakan oleh NASA (National Association of Students of Architecture - "www.nasaindia.co.in"), yang diselengarakan asosiasi profesi arsitek di india ("www.iia-india.org/aboutiia.shtml"). Event ini menjadi ajang kompetisi pembuatan dokumentasi arsitektur. Biasanya mahasiswa dari sebuah sekolah arsitektur akan memilih satu bangunan, atau dokumentasi kuno, dan mempresentasikan dalam sebuah drafting drawing dan presentasi yang bagus dan unik. Ritual ini benar-benar memiliki nilai sakral dikalangan mahasiswa dan membuat mereka bahkan bernai mati untuk tidak lulus satu mata kuliah demi kemenangan sekolah mereka. Faktor lain, di sekolah saya ini, rural architecture menjadi salah satu topik mata kuliah yang semuanya bertumpu pada dokumentasi lapangan.

Jadi nampaknya, lepas dari apakah teori atau praktek, kegiatan lapangan adalah aktivitas belajar yang paling diminati oleh mereka. Di sini mereka seperti bebas ungekspresikan adrenalin mereka. Sama seperti ketika mereka sangat bebas berteater. Mahasiswa ini, tanpa institusi seni, ataupun teater. Untuk event-event khusus mereka dalam satu angkatan bisa mempersiapkan sebuah street play yang luar biasa. Dalam event seperti ini biasanya ada dosen yang mengawai. Tapi sepertinya mereka juga tidak terlalu penting. Jingkrak-jingkrak memang sudah ada di dalam darah daging mereka rupanya. Dalam acara-acara perayaan sehari-hari, aku juga tidak pernah melihat mereka melakukan rehearsal. Mereka langung jingkrak-jingkrak saja di lapangan. AKu belajar "loncat-loncat" dan disko juga dari mereka. Bayangkan saja sepemalu apapun mereka, kalo sudah urusan dance floor... buas mereka semua , tanpa kecuali. Tanpa atau dengan teori, tanpa atau dengan dosen, sepertiya semua metoda yang mengoptimalkan adrenalin mereka adalah yang paling optimal.

[4]

Inilah situasi yang agak membedakan antara pengalaman saya mengajar di ITB dan SAP Anna University Chennai. Mahasiswa SAP lebih Spartan daripada mahasiswa ITB. Mahasiswa kita lebih Greeco daripada mereka. Saya terus terang lebih menikmati diskusi arsitektural di kelas Arsitektur Modern atau Teori Arsitektur di ITB. Mahsiswa jarang yang tidur dan diskusi jalan bebas hambatan. Di SAP mereka juga tidak tidur, tapi juga tidak hadir di kelas. Daripada bertanya hal-hal yang menarik perhatian berkenaan dengan tema kuliah, seperti halnya mahasiswa AR.ITB, mahasiwa SAP sepertinya lebih tertarik untuk menanyakan "jadi mau anda kami harus apa? nanti kami akan kerjakan".

Anyway, ini merupakan pengalaman menarik. Mengajar dalam bahasa Inggris, di kelas berbahasa Inggris. Dan not bad juga. Gini-gini, untuk mata kuliah yang sama tahun 2008, hasil penilaian kualitas mengakar departemen sempat menempatkan aku di ranking kedua dari seluruh dosen di tempatku. Tahun 2008 aku sempat dapet compliment dari dua mahasiswa Amerika dan sekarang juga jadi tempat curhat mahasiswa Spanyol untuk berbagai pertanyaan arsitektur yang biasanya sungkan mereka tanyakan ke pengajar lain (yang memang relatif kaku).

Memang di sekolah ini exchange student sudah jadi peristiwa harian. Kurikulum berbahasa Inggris membuat mereka tidak perlu memodifikasi apa-apa. Mahasiswa itu benar-benar mengikuti semua struktur perkuliahan dan tradisi mahasiswa lain. Karena inilah maka mereka bisa membuat banyak link termasuk credit-exchange dengan sekolah lain di Eropa, Amerika dan Australia. Padahal rangking Web-O-Metric mereka 2900-an sedangkan ITB masih bagusan rangking 500-an masuk ke 600

Sunday, October 17, 2010

diary tahun lalu

[1]

Tak seorangpun dapat menolak kenyataan bahwa ruang dan tempat berkata sesuatu, dengan bahasa yang tak terungkap lewat kata-kata, pikiran maupun perasaan.

Ada sebagian dari diri yang tahu tapi tak tahu bagaimana mawujud.
Ada sebagian yang tahu bagaimana hadir
Para pemikir rasional
Para pemikir sosialis radikal
Para pemikir empatik fenomenologis
Para pemikir etnograpfis
Para pemikir spiritual

Namun ruang tak pernah memiliki kata yang cukup untuk mengungkap diri

[2]

Alam ini adalah sebuah tubuh yang menarik bukan karena apapun yang melekat pada dirinya, bukan pula yang melekat pada sang pengamatnya, bukan pada sejarahnya, bukan pada asal maupun akhirnya. Ala mini menarik karena ia ingin ditarik sebagai dirinya. Tanpa interpretasi.

Ada kebenaran dalam pembacaan, baik oleh hati, pikiran maupun imaginasi, yang diperoleh tanpa interpretasi. Yang justru karena interpretasi ia kehilangan makna, apapun bentuk interpretasi itu, etnografis, historis, sosialis maupun spiritual.

Adalah kenyataan bila seseorang ingin tetap berada di masa lampau, sebagaimana seseorang ingin kembali ke rahim ibunya. Kenyataan untuk tidak kehilangan tradisi, kehilangan identitas, kehilangan akar, kehilangan budaya.

Namun juga kenyataan bila seseorang ingin berubah. Para masyarakat desa tidak ingin terus-terusan menjadi wakil dari wajah masa lalu atau figure tertindas. Para penjual di mal-mal juga ingin menjadi penikmat dan bukan sekedar hanya pekerja yang melayani penikmat ruang,. Para penghuni rumah kolonial ingin segera menjual rumahnya dan memperolah hal yang lebih berfungsi seperti uang.

Adalah kenyataan bahwa seseorang tak ingin berubah karena ikatan gravitasi. Orang lain akan menganganggap mereka status quo dan stagnant, mereka menyebutnya survivor.

Adalah kenyataan bahwa kesamaan itu adalah keniscayaan yang absurd. Adalah kenyataan bahwa perbedaan itu ada, hirarki itu nyata, dan siapapun menginginkan perubahan.
Adalah kenyataan pula bahwa kestagnanan itu tak menyenangkan. Siapapun hendak berubah.
Namun adalah kenyataan bahwa perubahan membawa keresahan.
Ketidak stabilanpun tak selalu menyenangkann.

[3]

Di antara edge of chaos, ada kegalauan yang berteriak memanggil.

Bahwa peta dunia ini juga sebuah narasi yang bercerita tentang adanya pusat semesta, pusat dunia,
Bahwa tubuh alam ini adalah sebuah anatomi kekuatan

Bahwa tubuh alam ini adalah seperti layaknya eksotika payudara di dada, otak di kepala dan organ reproduksinya. Dan semua alam pikir sudah mengenalnya, jauh sebelum interpretasi memberi keterangan lebih, baik sama maupu tidak.

Keterangan yang tiba belakangan inilah yang membuat , entah kenapa:
Preservasi menjadi terdengar demikian penting
Perubahan mereka yang di-preservasi juga tidak salah
Vernacularisme bisa jadi kebenaran
Tradisionalisme diakui sebagai keniscayaan sejarah yang terpetakan oleh waktu

Keinginan merusak arsitekturjuga adalah peristiwa arsitektur itu sediri juga
Sosiologi radikal, Ultra-Rasoinalime, Dekonstruksu hanya member keterangan yang benar yang lain
Demikian pula Fenomenologi, yang bisa jadi memberi jawaban yang utuh tapi,
apa arti sebuah narasi yang utuh bagi pembaca yang tidak utuh?

Refleks disalahkan atas nama keterburu-buruan

Ada kegalauan yang bernaung dalam hati. Bukan dalam buku atau perdebatan.
Obat bagi kegalauan ini hanya diatasi oleh kelakuan, perilaku dan perlakuan.


[4]

No theory

Hanya perbuatan.
Perbuatan yang salah bukanlah perbuatan yang gagal
Perbuatan yang salah adalah perbuatan yang tak dilakukan
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang terjadi
Perbuatan yang indah adalah perbuatan yang “menjadi”

[5]

Alam ini jauh lebih kuat. Begitu kuat sehingga keterbacaannya jelas.
Kita memakai kaca mata kuda.
Tahu bahwa kacamata harus sering diganti, namun tak diganti juga.

Setiap hari aku bangun pagi dan berkata pada diriku kata-kata yang masih sering takut aku ucapkan
Kalimat yang terdengar demikian spiritual bahkan relijius daripada doa.
“Mari berbuat”

Namun aku harus ucapkan juga, bukan karena aku bisa, bukan karena aku hebat,
Bukan karena inspirasi-inspirasi adi duniawi, bukan pahala maupun kepercayaan diri
Bukan pula karena Tuhan…..

Tapi karena aku tahu,
Aku tak akan bisa lari

(2008)

Music, Love and My Life

Since fifteen yeas back, I have been telling myself that music is the best gift God has ever given me....
It might have been the gift for my dull childhood that was what I told myself 5 years back...
I used to tell myself whenever friends fooled me, or teachers scolded me or my mum pinched me or anything that made me sad, that maybe God simply save my good time for somewhere in the future... This belief for a good time in the future is really a source of life to live a day after day. Once a day went away, it was lost in time.

I was always passionate by violin. It maybe due to my dad's Classical recorded I had been listening since I was a baby... The songs always started somewhere in my dreams and continued through my waking moment. Timely I asked my dad to make me learn violin. I never really know whether he simply was hesitant to send me to violin class, or it was true that violin was expensive, or he was always wanted me to learn what he could only do. He just asked me to learn whatever means available, he played guitar and guitar was available at home. Disappointed. Because to me guitar was not as classy as violin was. Beggar played guitar in the streets. Street boys stamped pop stickers on their guitar (Police, Sex Pistols, and Kiss)... Not classy at all. But anyway I did try to learn...

Anyway, maybe whatever I and my dad wanted, there had been something bigger that worked on my interest in violin and my guitar reality. Something that made me finally fall in love with something I looked down before, guitar reality; something that made me think, learn, read and figure out in musical way.

On 9 years old I was just putting my fingers on the fret, and while talking with my mum, my fingers had its own game to play that my mum wondered later, "Indah are you playing 'Gembala Sapi'?". I suddenly looked at my fingers and found that they were really plucking the string and played the song. On 11 years old I was learning a guitar play from my father's record that only the next two years after starting learning English and able to read the cover cassette, I realized that it was, "Mantilla de Feria", a Flamenco guitar play, played by three!

On 11 I saved everyday a 10 rupiahs (a penny) to buy a guitar for myself. After a year, I remembered going to Nada, a music shop in town and bringing thousand pieces of those changes I had saved on my chicken mud saving pot, with my parents. It was not enough (of course). But my mum was kind. She added my money to buy a guitar. A big classical guitar I finally got, "Sandoz" a little less expensive than Yamaha. I could not buy the smaller one because it was more expensive. So until I was 13, I could not hold it properly. Anyway it was ok, even before I could hold it properly; I have made lots of arrangements on some songs: "Scarborough fair, Petit Garcon, Butet, Starry night, some pop 60's-80's as those I referred from my dad's songs.

Guitar has been more than just an instrument. It was a friend in hard time. It was the only life in my lonely room. I expressed everything in it. It was my mate when biking. It felt good, biking with it on my back through afternoon, just going to friends place to play it along with them, to park and played it. Or just biking together with it along the road, and by heart I yelled out.... "Hey world this is me and my guitar!"

I learned it through my only ears. I listen. I listened to all music. I did not really know how it was played, but I know it was good, and I found all complex plays were configured by a simpler language. All changes are only modifications of that simpler language. I listened eagerly with any means possible. Any means, that I broke my dad's car audio system, damaged the ribbon magnet at all mini compos at home, destroy play and rewind button of any players nearby. In a way I also wanted to look smart, so I started learn block notes till once I found a quite complicated block notes. I tried to read it. Disappointingly, it turned up a simple song that I know very well. I told myself, if such simple composition should be written in such a complicated language, how this language would ever speak my music. So I quitted, and resumed to live only with my guitar, fingers, and ears.

I never went to any music school, because it seems my parents felt they needed me more to join traditional dance school. It would make me more cultural and mannered. Typical family of the time. But I did not mind, I learned a lot too from dance, and what a kid could do against their parent's wish. Beside as I said earlier, that there has been something bigger that worked on my interest in music, which in many ways embrace dance as well. It has been always making its own way. I kept learning and playing.

Anyway.... either I have not done enough or maybe my music has been a private affair only for myself, it has not made me anything the world could proudly see me. I remembered having a friend on my primary school who always wondered about my play. I showed him my guitar and some simple chords. He got interested and at that time he could not play any music yet. The next 10 years I noticed he appeared as famous musician. I helped friends to make a song, and made him win several musical compositions. And I left nothing for myself.

Some people said I was always taking wrong paths. I concentrated on painting, while the musical way of fame door opened for me. I was quitting painting when it was closed. But just as I always think to keep myself moving on I told myself that maybe It is not my time yet to be right. And I enjoyed myself to keep playing my music for me myself, my friends, for warm gathering occasions, in the chill lonely night, and to heal a broken heart.... It seems that guitar may never be any celebrity affair but just a warm friend. That is good enough.

As times go bye, I learn as what I have been feeling since the very beginning that there something that went beyond on my interest in playing guitar, Music. Music leads me to joy and virtue (“Musica laetiae comes medicina dolorum" a word quoted by my beloved on sms some times back). It taught me harmony, continuity, pattern and color not only in songs and voices but also life. When music is gone, life is gone, and whatever I do right no matter grandiose it could look, it was practically not right or not completely true. Music is a perfection of sense of sensing. Future is yet unpredictable; it was always figurable because it flows in musical way. I hardly concern loosing or winning, though of course I enjoy winning. Mistakes and failure is never so bad because even a failure is only a decrescendo that all composition would need. By music I also learn my flaws like greed and fear, and anything that come destructive to the whole harmony.

The next was upgrading music as a play of music to a musical thought, a game of thought, a search for explanations. A way to convince myself that my musical mind is not imperfect. I started to learn music as discourse. Biography, some practical theories till anything that thousands miles away from music, yet still musical like mysticism of Hazrat Innayat Khan, Kahlil Gibran; Friedrich Schiller and Goethe; Raphael and Debussy; Al Ghazali; Galib and Rumi; even to Al Arabi; a life of Jacob Gerzhowits. My skill has been advanced by ears on Jazz as well as Deconstruction. It made me enjoyed so much and saw the flaws not only in me in the word God and religion. It made me learn a lot, but still it got me to nowhere than just exhausting venture for searching...
The exhaustion that leads me home to a simple fact about that that went beyond my interest in music. The love on music, It was the love itself....

Love that makes me learn, love that make me moves on, love that makes reloaded, loves that re-generate me, love that made me struggles, love that made me felt it as a gift, all those love can do that make me write my own songs. Love that made me imagine if someone should write a story about me, it should be a musical story of life.

When things reach the quest of love, one would reach the end road of imaginary horizon, an unfinished understanding, the end write up that would be endlessly updated a quest on something that always a step ahead.... Something that can only be conceptualized in the state private lovemaking, as that done by lovers. It worth more than a passion between lovers as well as more between me and my guitar. It worth a binding intellect, a property that makes scattered things one in the same breath..... A binding intellect that is therefore would always stand beyond they it binds. Buddhi in me and my guitar ... me and my lover....

As long as I hear music in life, love is still with me and things is supposed to be alright in both major or minor... And everything has its own way. A guitar that I bought with my own saving money gives birth to it...

(2009)